Food and Life | a blog by @gracialio

Mengenai Kesetaraan Gender

Seperti biasa, saya tadi pulang pesan Grab Bike. Kebetulan bapaknya dekat sekali dengan kantor, jadi tidak sampai 5 menit sudah sampai. Selama di perjalanan kami mengobrol, dan awalnya sih mengobrol kasual, apakah asli orang Bandung, sudah berapa lama di Bandung, biasa mulai ambil order jam berapa, dan seterusnya. Kemudian, si Bapak memberi pertanyaan dan statement yang sedikit menggelitik pemikiran saya.

Setelah sedikit mengobrol dan bapaknya tau saya asli orang Bogor, beliau bertanya, kenapa tidak kos di daerah dekat kantor saja? Saya jawab, karena rumah di dekat sana (tujuan dari ride saya hari itu), Pak. Kemudian si Bapak bertanya lagi, kenapa suami tidak jemput? Karena ya kenapa juga suami harus bolak balik dari kantor dia (yang dekat banget ke rumah, ga sampai 5 menit dengan mobil) ke kantor saya, kemudian balik lagi untuk ke rumah, jawab saya. Lalu si bapak bilang,

“Harusnya dia rela, Mbak, untuk jemput, pengorbanan sedikit, dong.”

Lalu saya jawab ya kan mau ngapain gitu, bolak balik. Kalau misal lagi hujan atau saya sedang malas, pasti dijemput, koq.

“Mbaknya juga harus ubah pola pikir, jangan berpikir begitu (kenapa suami harus bolak balik). Harusnya dia rela berkorban. Biar harmonis, Mbak, rumah tangganya.”

Lalu saya sadar kalau pola pikir saya dan si Bapak berbeda. Saya sangat appreciate suami saya memperbolehkan saya untuk berangkat dan pulang kemana-mana sendiri. Suami tidak menjemput, buat saya bukan tanda kalau dia tidak mau berkorban. Buat saya, itu tanda kalau dia tidak mengekang dan menganggap saya mandiri. Juga tanda kalaukita kaum perempuan ini dihargai sama dengan kaum lelaki. Coba bayangin kalau kemana-mana harus diantar/dijemput suami. Kalau doi lagi ga bisa antar atau jemput lantas merana sendiri gitu?

Kemudian si Bapak mengutarakan satu pemikiran lagi yang (lagi-lagi) berbeda prinsip dengan saya.

“Mbaknya ga seharusnya kerja, juga, loh.”

Jeng jeng, ini jaman kapan, Pak, istri harus di rumah aja? Pikir saya, dalam hati. Saya kemudian menjawab, “Kalau di rumah bosan, Pak.”

“Iya ya, Mbak? Seharusnya selama mampu, yang kerja itu suami aja.”

Terus yang selama ini diperjuangin ibu kita Kartini kemana? Menurut saya, keputusan istri harus kerja atau tidak itu tergantung pasangan masing-masing. Pada dasarnya, menurut saya, semua orang itu hidup sebaiknya untuk menyenangkan diri sendiri juga. Kalau seorang istri memang mau urus anak dan senang untuk mendedikasikan diri di rumah, ya boleh istri di rumah aja. Tapi kalau si istri memang suka kerja, ya sebaiknya tidak dilarang. Semua kembali lagi ke masing-masing pasangan. Ga ada jawaban baku yang mana yang benar.

 

Dulu sekali, kaum perempuan itu diwajarkan dan dinilai untuk ‘cukup’ tinggal dan mengurus rumah saja. Sedangkan kaum laki-laki harus berjuang mencari nafkah. R. A. Kartini dulu berjuang supaya perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Dan hasil dari perjuangannya bisa kita lihat di jaman modern sekarang ini. Kaum perempuan sudah bisa sekolah dan bekerja tanpa dipandang sebelah mata. Dulu di kantor lama saya yang multi national, country managing director nya adalah seorang perempuan. Masih banyak memang kasus dimana kaum perempuan masih dipandang sebelah mata, seperti cerita pengalaman saya di atas. But I’d say we’re getting there, to the gender equality that all of us desire. Contoh nyata kesetaraan gender yang semua rakyat Indonesia bisa lihat adalah diangkatnya Megawati Soekarnoputri menjadi presiden kelima Republik Indonesia.

Yang juga bikin gregetan kemudian adalah kaum wanita yang ingin dihargai haknya, tapi juga masih ingin kemewahan menjadi wanita lemah. Pintu harus dibukain? Ngangkat barang harus nunggu kaum lelaki? Kemana-mana harus diantar? Terus emansipasi wanita fungsinya cuma supaya kita bisa lebih leha-leha dalam hidup? Secara fisik, wanita memang mungkin (mungkin, karena ada aja wanita secara fisik kuat) lebih lemah. Maka at times, memang butuh bantuan lelaki. Begitu juga mungkin kaum pria butuh bantuan untuk merapikan rumah atau memasak (misalnya, karena ada juga kaum pria yang sangat rapi dan bisa memasak). Tapi bukan berarti salah satu gender lebih memiliki banyak hak atau bisa menuntut lebih dari gender lainnya.

Gender itu bukan dua ujung berseberangan yang harus berbeda. Bukan laki-laki itu pasti kuat dan perempuan itu pasti lemah. Bukan laki-laki itu harus melindungi dan perempuan itu harus dilindungi. Bukan laki-laki itu harus selalu berkorban dan perempuan itu harus selalu….. menerima pengorbanan? LOL.

Bukan berarti karena fisik kita lebih lemah terus kalau mau ngangkat barang harus nunggu kaum lelaki, gaes. Mari coba angkat dulu, kalau ga kuat baru minta tolong.

Bukan berarti ga bisa masak terus harus nunggu kaum wanita masakin juga, gaes. Mari coba mulai masak, dari telor ceplok, misalnya, atau mie instan. Kalau masih gagal bolehlah minta tolong.

 

Mari kita mulai dari diri sendiri.

 

I also feel like we should stop calling feminists ‘feminists’ and just start calling people who aren’t feminist ‘sexist’ — and then everyone else is just a human. You are either a normal person or a sexist. People get a label when they’re bad. – Massie Williams



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *