Hidup Dengan Tenang

I never really had celebrities death that really impact me. This year I had two.

Kita pasti punya selebriti yang kita idolakan, yang kita kagumi, dan yang menjadi panutan. Tiga ini beda menurut saya. Tahapan selebriti di mata saya itu dimulai dari “siapa sih” ke “oh dia” terus yang selanjutnya akan menjadi antara “meh” dan “wah dia oke ya”. Dan tahapan “wah dia oke” ini akan terus menjadi kekaguman dan panutan. Terus tahapan “meh” akan menjadi “more meh” dan “dunno don’t care”.

Anyway, selama ini selebriti yang meninggal pada umumnya usianya jauh lebih tua dari saya dan saya kurang tau. Jadi kemungkinan masih pada tahap “oh dia”. Jadi ga gitu kerasa gimana-gimana sih. Kematian selebriti yang agak kena di saya untuk pertama kalinya adalah “Michael Jackson”. Because I listen to a lot of his songs. And he’s brilliant. Dan pemikiran saya lebih ke “sayang banget kita kehilangan orang yang se talented ini so early”. But that was it. Inget kan kalau setelah MJ meninggal, lagu-lagunya malah naik lagi di tangga lagu? Nah saya adalah satu dari orang-orang yang ikutan menyetel lagu atau menonton videonya lagi saat itu.

Hal yang sama juga terjadi ketika saya mendengar Robin Williams meninggal.

Kemudian tahun 2016 kemarin kita kehilangan Alan Rickman. I loooove Harry Potter to death. I’m a big potterhead. Dan saya nonton film Harry Potter dan sangat mengagumi bagaimana Alan Rickman ini portray Snape in the best way possible. Dan kemudian saya baca-baca tweet-tweet dan cerita-cerita dari selebriti dunia lainnya tentang beliau, dan saya jadi sedih.

And then this year came.

Bulan Juni kemarin Chester Bennington memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Saya tulis tentang ini juga sebelumnya disini. Dulu, jaman-jaman baru mengenal musik, jaman-jaman bingung sama apa yang kita rasain, jaman-jaman dimarahin ortu ga bisa ngelawan dan kesel tapi ga bisa apa-apa, lagu-lagu dan teriakannya Chester inilah yang bantu saya ‘menyalurkan’ apa yang saya rasakan. I feel more connected to him. Jadi waktu saya mendengar berita kalau dia bunuh diri, sedih banget tentu. Tapi terus pada titik paling sedih, I don’t have the heart to even see him in Linkin Park’s videos, nor do I have the heart to listen to his voice. Saya baru mulai mendengar musik mereka lagi sekitar dua bulan kemudian. Because it pained me so much to listen to his voice, knowing that he’s gone.

Baru tau saya sedihnya kaya apa.

Lalu beberapa hari yang lalu, ada berita lagi kalau Kim Jong Hyun, salah satu personal boyband Korea Shinee, bunuh diri. I was never a full time Kpop listener, nor was I his biggest fan. Tapi kalau kalian pernah nontonin variety show Korea, atau sedikit mengikuti showbis Korea, pasti tau siapa dia ini. Dan di setiap variety show yang ada Jonghyun nya, dia selalu ceria, banget. He’s handsome, he’s successful, he’s talented, he’s my age. Tapi ternyata dia depresi dan bunuh diri. My heart aches because I always see him so happy. Dan sama juga, it would pain me to listen to his voice or watch videos of him.

Dan dua kasus ini bottom line nya sama : they are so depressed that they took their own life. Kurang apa dari hidup mereka? They made it big, they’re good looking, they’re loaded, they have lots of fans. Dan mereka vokal terhadap depresi mereka, they’ve been trying to overcome it, but they failed and in the end take their own life. Banyak kan pesan-pesan kalau depresi itu bisa dihindari and people who has it should seek for help? Well Jonghyun did, and he still took his own life in the end. Jadi mungkin saya  sedih juga karena satu hal lagi : saya takut. Takut kalau perasaan-perasaan anxious yang sering saya rasakan suatu saat akan membawa saya ke titik itu.

Tapi apa yang their loved ones bagikan tentang rasa kehilangan mereka setelah ditinggal, dan bagaimana saya berpikir “why would they do that” dan “sayang sekali mereka harus pergi dengan cepat” membuat saya memikirkan hal yang sama akan terjadi kalau saya sampai pada titik itu. Dan saya jadi punya rasa takut yang lain : takut membuat orang-orang dalam hidup saya jadi sedih, dan takut mengecewakan diri sendiri. Jadi saya memutuskan untuk nggak terlalu mikirin anxiety yang sering banget mampir ini. Kebetulan banget hari Minggu kemarin pendeta saya bilang, “Hiduplah dengan tenang dalam doa.”

Hiduplah dengan tenang. And I choose to want to be happy.

How about you? Let’s live in peace and be happy 🙂



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *