Food and Life | a blog by @gracialio

Kehabisan Keberuntungan

Sekitar 4 tahun yang lalu, saya dan teman kerja memutuskan untuk makan siang di Grand Indonesia, Jakarta Pusat. Kebiasaan kaum pekerja di Jakarta, kalau hari Jumat biasa makan siang keluar. Walaupun itu berarti balik ke kantor sudah lebih dari jam 2 dan harus lembur buat selesaiin pekerjaan 😂  But anyway, kita makan di salah satu restauran yang termasuk dalam Ismaya Group, lupa sih nama tempatnya apa. Tapi hari itu lagi ada kesempatan untuk memutar wheel of fortune kalau abis makan seharga sekian (lupa juga berapa LOL). Hadiahnya adalah voucher sekitar Rp. 50.000, 00 dan yang agak lebih mendingan adalah dapat kartu member Ismaya Group, karena kalau mau buat harus belanja/makan seharga sekian terlebih dahulu. Singkat kata, saya yang putar karena saya yang talangin bayar. Lalu saya putarlah tanpa pikir panjang, karena saya kan jarang sekali menang yang beginian, jadi paling juga ga dapet apa2, pikir saya. Kemudian…

Jengjengjengjeng….

Wheel of fortune-nya berhenti di Kartu Ismaya. Saya senang sih, karena jarang banget kan dapet yang agak mending dari undian. Haha. Lalu, salah satu teman saya bilang:

“Nah, Grace, jangan-jangan ini keuntungan lo dalam tahun ini keserap semua kesini.”

….

….

“Ah jangan gitu dong, Gus, jahat lo!” Jawab saya setelah menelaah maksudnya.

Terus ga terlalu dipikirin lagi sih (saat itu).

 

Tapi ada ga sih sebenarnya kehabisan peruntungan baik atau keberuntungan? Is there such thing as running out of luck? Keberuntungan sendiri ada ga sih? Do you believe in luck?

Kamus besar Bahasa Indonesia bilang, peruntungan itu adalah untung dan malang; nasib. Cambridge dictionary bilang, luck atau peruntungan adalah suatu paksaan/kekuatan (force) yang menyebabkan banyak hal, terutama hal-hal baik, terjadi pada kita secara kebetulan dan bukan karena hasil dari usaha atau kemampuan kita sendiri.

Saya sendiri ada pada tahap ‘percaya ngga percaya’ sama peruntungan ini. Saya percaya, karena terkadang ada kejadian yang kita ga prediksi ataupun usahakan tapi membawa hal baik buat kita, seperti menang undian. Tapi juga memutuskan untuk tidak percaya, karena pada umumnya hal-hal tidak terduga yang membawa keberuntungan seperti ini toh terjadinya hanya sekali-sekali banget. Dan kita tidak bisa menggantungkan hidup kita pada keberuntungan yang ngga jelas kapan datangnya.

Daripada ‘luck‘, saya lebih mengamini ‘law of attraction‘. Saya pertama tau tentang ‘hukum tarik menarik’ ini waktu dulu nonton documentary film ‘The Secret. Walaupun alasan utama nontonnya karena saya kira ini film cerita fiksi semacam Harry Potter gitu, haha, karena liat deh cover bukunya:

Ya kan? Ga salah kan kalau salah kira? Hahaha

Anyway, pada intinya, law of attraction ini adalah bahwa apa yang kita pikirkan akan membawa/menarik hal yang sifatnya sama pada hidup kita. Kalau pikiran kita baik, positif, maka kita akan menarik hal-hal positif dalam hidup kita. Pun juga kalau kita memikirkan yang negatif, maka hal yang buruk yang akan terjadi pada kita.

Kalau kata orang tua saya, sugesti itu sangat powerful dalam hidup kita. Misalnya nih, mau ujian, terus yang dipikirin : duh nanti kalau soalnya susah gimana, kalau apa yang dipelajari ga keluar gimana, kalau keluar di soal ujian tapi gue nya lupa gimana. Terus saatnya ujian, soal dibagikan, soal-soalnya kita udah pelajari kemarin. Tapi berhubung sambil belajar pikiran kita sibuk sendiri sama mikirin negatifnya, ujung-ujungnya pikiran kita malah keblokir duluan dan lupa lah semua yang udah dipelajari itu, makin coba diinget-inget malah makin mumet. Akhirnya ngarang dan guru/dosen nya ga terima jawaban itu dan nilai kita jeblok. Terus abis itu ujian selanjutnya malah jadi mikir “Ah buat apa belajar, ujian kemaren belajar susah-susah tetep ga inget apa yang dipelajari.” Terus ga belajar, nilai jelek, ga lulus deh.

Lain cerita kalau kita belajar sambil mikirnya positif, “Nah ini nih, ini kayanya besok keluar di ujian, afalin ah.” Sama juga ketika besoknya pas ujian dibagiin soal udah mikir “Ah kemarin udah dipelajari semua pasti bisa dijawab.” Secara ga sadar begitu baca soal langsung kebayang jawabannya, ga mentok dan keblokir gitu jawabannya. Terus karena bisa dan PD ngerjainnya, dapet nilai bagus. Ujian selanjutnya belajar lagi, nilai bagus terus lulus deh.

Intinya, keberuntungan itu mungkin ada. Kita boleh percaya boleh juga ngga. Yang jangan itu menggantungkan hidup pada keberuntungan. Daripada menunggu keberuntungan yang ngga tau juga kapan datangnya, lebih baik kita mulai dengan hidup dalam pikiran positif, supaya hal-hal yang datang pada kita pun positif 🙂

 

Many of these studies have found that what a person might perceive as “luck” has more to do with psychology than probability; “luck” is actually just her own positive attitude that keeps her open to new opportunities or perceiving patterns in random acts of chance. (source: Popular Science)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *