Review 13 Reasons Why Season 2 (Bahasa Indonesia)

(Poster credit)

 

Disclaimer : I am not an expert at all about movies or cinematographic. This review is purely 100% based off of my personal taste subjectively.

 

Prolog

Abis nonton Season 1, yang menurut saya bagus banget, saya sebenarnya galau apakah mau lanjut nonton Season 2 atau tidak. Soalnya saya merasa ceritanya udah selesai di explore semua di Season 1. Semua alasannya sudah dibahas, semua tape sudah di-play. Namun berbekal penasaran dan gegara beberapa yang reply di Instagram Story bilang kalau S02 nya seru, akhirnya saya nonton juga, haha. By the way, review ini bakal ada spoiler-spoiler nya ya, so be warned!

Baca juga : Review 13 Reasons Why Season 1 (Bahasa Indonesia)

 

Sinopsis

Season 2 nyeritain trial atau jalannya pengadilan tentang andil sekolah dalam kematian Hannah (orang tua Hannah menuntut bahwa sekolah punya andil dalam Hannah mengambil keputusan untuk bunuh diri). Yang mana masing-masing pihak memanggil saksi untuk bertestimoni. Setiap episode di Season ini dinarasi dan terfokus pada masing-masing saksi. Selain itu, Season 2 ini juga mengorek dan bercerita mengenai sexual assault yang dilakukan oleh Bryce Walker.

 

Review

Again, be alerted of spoilers ya guys buat review-nya.

Season 2 ini ingin cerita kalau there’s always two sides of a story, maka masing-masing orang yang dipanggil untuk bersaksi juga bercerita tentang cerita-cerita dari sisi mereka (kebanyakan adalah mereka yang ada di tape Hannah, kecuali Alex, Ryan, dan Sheri). Yang mana cerita versi mereka ini melempar semua cerita Hannah keluar jendela. Sebenarnya saya agak amused juga sih ceritanya bisa dikembangin lagi sama writer-nya. Karena seperti yang saya bilang di prolog, koq kayanya ceritanya udah ‘abis’ di Season 1.

Masalahnya buat saya, yang membuat series ini bagus di Season 1 adalah bagaimana kita jadi tahu dan mengerti kenapa seseorang itu bisa bunuh diri, runtutan kejadian seperti apa, kecil dan besar, yang bisa membuat seorang murid bunuh diri. Hal itu tersampaikan dengan baik di Season 1, kita jadi mengerti bagaimana frustasinya jadi Hannah. Terus cerita di Season 2 ini malah ngacak-ngacak semua ‘pengertian’ yang didapat dari Season 1 tersebut, karena their side of the story bikin alasan-alasan Hannah terkesan jadi… egois. Like, what the hell? Why would the writers do Season 1 dirty like this? Terus apa faedah nya lagi nonton series ini kalau malah jadi drama and intrigues like usual.

Oh ada lagi yang bikin bingung : Clay ngobrol sama ‘hantu’ nya Hannah. Apakah itu di otak dia aja? Jadi terus apakah Clay udah gila atau apakah genre series ini berubah jadi horror?

And then there’s the horror of the last episode. Don’t even get me started. It’s way too graphic OMG, inget-ingetnya aja udah stres sendiri. Kalau penasaran tentang apa, Google aja ya huhu ku tak tega ceritainnya.

 

What I Like The Most

The glory that is Zach Dempsey, hence the poster in the beginning of this post 🙂

 

What I Dislike The Most

The story, and the last episode.

 

Favorite Quotes

“No matter how matter reasons there are, there are always more reasons why not”
— Olivia Baker, Episode 13

 

My Final Rating

1.5/5

 

See the full list of my Netflix show rank here.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *