Review Stranger Things Season 3 | Bahasa Indonesia

(image source from E!Online)

 

Disclaimer : I am not an expert at all about movies or cinematographic. This review is purely 100% based off of my personal taste subjectively.

 

Sinopsis

Di Season 2, portal ke The Upside Down berhasil ditutup, yang membuat monster-monster di Hawkins mati semua.

Season 3 dimulai dari bercerita tentang kehidupan tokoh-tokoh kita saat itu : Eleven – Mike dan Max – Lucas yang sekarang pacaran, Dustin baru pulang dari camp dan punya pacar, Will yang merasa terkucilkan karena ingin main tapi teman-temannya sibuk pacaran, Steve bekerja di toko ice cream di mall yang baru dibangun bersama seorang cewek bernama Robin, Billy yang kerja sebagai penjaga kolam renang, Nancy dan Jonathan yang magang di perusahaan koran yang sexist, dan Joyce dan Hopper yang masih bekerja seperti biasa.

Semua terlihat normal. Tapi ya ga mungkinlah karena kalau ga season 3 ini ceritain apaan haha. Sampai satu demi satu kejanggalan terjadi. Mulai dari Joyce yang menyadari kalau magnet-magnet di rumah dan tempat kerjanya ga ada yang nempel di kulkas, Billy yang bersikap aneh, Dustin yang menangkap pesan misterius dari radionya, dan Nancy dan Jonathan yang tip tentang tikus aneh. Masing-masing berusaha menginvestigasi kasus-kasus aneh ini yang berujung pada…..nonton aja deh sendiri daripada penasaran.

 

Review

(Spoiler alert!)

Stranger Things ini literally at the top of my list. Jadi pas keluar Season 2 nya ini senang banget dan penasaran banget bakal masih bagus apa ngga. Mari kita bahas satu-satu.

Mulai dari setting-nya. Saya suka sekali sama film yang settingnya jaman dulu gitu. Stranger Things ini salah satunya. Set up nya masih di tahun 1980an, dan masih oke banget direalisasikannya. Mulai dari fashion, potongan rambut, mobil-mobilnya juga. Teknologinya pun masih berasa tahun 80an, walkie talkie, telepon, cetak foto harus di ruangan khusus. Oke banget merealisasikan tahun 80annya.

Dari ceritanya, berhubung ini science fiction, jadi memang luas banget cakupan gimana ceritanya bisa berkembang. Tapi kita udah ngelewatin fase ada monster (Season 1) dan monsternya balik lagi (Season 2). Dan di akhir Season 2 itu portalnya ditutup. Jadi di Season 3 ini penasaran bakal dikembangin kaya apa ceritanya, bakal maksa apa ngga.

Buat saya ceritanya memang sedikit klise karena di Season 3 ini ceritanya portalnya dibuka lagi. Sama Rusia pula. Bikin banyak pertanyaan buat saya : what, how, why?  Dan ini ga terlalu dijelasin juga kenapanya Rusia bisa terlibat dan pengen buka lagi portalnya. Dan juga ceritanya dibagi jadi banyak kelompok. Hopper dan Joyce investigasi kenapa magnet-magnet pada ga nempel. Steve, Robin dan Dustin dan Erica menginvestigasi pesan rahasia radio Rusia. Nancy dan Jonathan menginvestigasi tikus yang diduga Mind Flayer. Eleven dan Max juga Lucas dan Mike dan Will menginvestigasi hal lainnya. Dan mereka ga benar-benar ketemu dan menyambungkan semuanya sampai di….episode terakhir. Yang mungkin biar bikin geregetan sih, tapi saya lebih prefer kalau beberapa episode sebelum akhir udah nyambung lah cerita para tokohnya jadi lebih rame-rame memburu monsternya.

Speaking of the monsters, monsternya sih tetep berbentuk menjijikkan, tapi lebih besar dan menyeramkan. Buat yang bingung sama monster-monster di Stranger Things, ada yang me-recap dan bisa baca disini. Walaupun monsternya masih dari Mind Flayer juga tapi monster di season ini lebih jahat, besar, dan bisa mengontrol pikiran. Episode terakhir dimana mereka kejar-kejaran dan berantem sama monsternya sih tetap seru dan bikin deg-degan, yang jadi poin plus buat Season 3 ini. Apalagi kejar-kejarannya beneran sampe monsternya di depan mata karakternya banget.

Faktor lain yang bikin Stranger Things ini bagus dan tetap ingin ditonton adalah karakter-karakternya, dinamik karakternya, dan chemistry antar karakternya. At least for me they are one of the strongest reason. Dan emang tokoh-tokohnya masih oke banget buat ditonton. Kesan pertama pas episode satu adalah : ini udah pada gede ya anak-anaknya haha. Rasaan waktu nonton Season 2 kaya pada masih kecil. Sekarang di Season 3 ini udah pada remaja dan udah pada fase pacaran. Yang bikin agak bingung adalah si Eleven bisa beradaptasi secepat itu. Ini anak yang keluar dari sekapan belum lama loh. Tapi udah bisa dan tau banyak hal.

Trofi untuk karakter terbaiknya buat saya jatuh ke tokoh baru mereka, Robin, dan tokoh lama yang baru dapet spotlight : Erica. Robin ini ternyata diperanin sama Maya Hawke, yang adalah anak dari aktris Uma Thurman dan aktor Ethan Hawke. Tapi hebatnya Maya Hawke ini beneran jago banget meranin Robin-nya sampe kita ga kepikiran kalau dia bisa dapet role ini gara-gara orangtuanya aja udah beken. Dan Erica, I love her sharp and sassy style. Emang penulis Stranger Things ini menurut saya jago bikin karakternya. Dan dinamik kelompok dari Steve, Robin, Dustin, dan Erica ini emang yang paling seru diikutin dibanding yang lain-lainnya.

So overall, dari segi ceritanya sih walaupun menimbulkan banyak pertanyaan yang tidak terjawab, masih seru buat ditonton dan episode terakhirnya oke sih bikin deg-degan-nya dapet. Aktor-aktor dan karakternya oke banget, chemistry-nya masih oke banget.

 

What I Like The Most

Erica, so sassy.

 

What I Dislike The Most

Harus butuh 8 episode sampai semuanya bisa saling mengerti kalau kasus-kasus mereka tuh nyambung dan jadi satu cerita.

 

Favorite Quotes

“I dump your ass.”

 

Where to Watch

Netflix

 

My Final Rating

4.4/5

 

See the full list of my Netflix show rank here.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *