Food and Life | a blog by @gracialio

What I Love and Hate : Jakarta

In a series of ‘What I Love and Hate’ posts about where I have lived/been living, kota kedua yang akan saya tulis adalah kota kedua yang pernah saya tinggali : Jakarta. Technically, Jakarta itu bukan kota, tetapi provinsi, yang dipimpin oleh gubernur dan terdiri dari 5 kota administrasi yang dipimpin oleh walikota masing-masing. Kok jadi belajar begini LOL. Saya tinggal di Jakarta kurang lebih 6 tahun. Dan 3,5 tahun pertama (kuliah) tinggal di Jakarta, saya belum bisa pakai transportasi umum (atau belum berani). Jadi ga begitu kerasa sih keras-kerasnya hidup di Jakarta. Mau kemana-mana tinggal duduk di motor pacar atau di taksi atau mobil terus sampe, hahaha. Manja. Terus kerja, pacar di Bali, jadi hidup sendiri baru deh ngerasain susah payahnya bertransportasi di Jakarta.

Anyway, here is my love and hate for Jakarta.

What I like :

  • Everything you need to buy is in the city
    Sering banget nih kalau lagi di Bandung atau di Bogor, pengen beli ini itu tapi ga ada tokonya. Store-store yang dari luar negeri pasti pertama buka di Jakarta. Misal, suami nih suka banget sama celana Pull & Bear. Jadi kalau mau beli celana, susah, karena dibandingin sama Pull & Bear (kualitas dan harganya). Kalau kualitas udah sama tapi harga lebih mahal dari P&B, jadi ngerasa sayang, mending beli di P&B. Tapi ga ada di Bandung, harus ke Jakarta. FYI sekarang sih udah ada di Bandung, di Paskal 23, tapi contoh ini berlaku untuk toko-toko atau restoran-restoran lain seperti misalnya : Forever 21, Marché, Sate Senayan.
  • Bigger pool of career opportunities
    Ini sih poin paling oke di Jakarta. Di dunia IT, banyak banget career path yang bisa dipilih. Jadi programmer, analyst, designer, QA, project management, database admin, dan lain-lain. Kalau kamu tertarik bidang lain dan punya portofolio yang oke, bisa juga pindah bidang kerja. Ini benar adanya, kalau anda tinggal di Jakarta LOL. Ditambah lagi, perusahaan-perusahaan sebagian besar based in Jakarta.
  • Lots of transportation options
    Lanjut dari pembukaan tadi, sejak kerja saja adalah pemakai transportasi umum. Dari angkot, ojek, kereta, Trans Jakarta, metromini, sampai taksi. Sekarang sih udah ada ojek online, transportasi utama saya (karena ojek online itu semacam taksi yang lebih cepat dan lebih murah, ya ga sih?). Dulu, waktu belum ada, mau kemana-mana masih gampang karena banyak opsi transportasinya. Kereta aja stasiunnya banyak kalau di Jakarta. Kalau TJ ga sampe ke tujuan, bisa lanjut naik angkot. Lah kalau di Bandung/Bogor, harus sambung menyambung angkot.

 

What I hate :

  • The heat!
    I hate heat. I’m that kind of person that rather be using blanket in an air-conditioned room. Di Jakarta panas banget. Dan saya sangat gampang berkeringat. Kalau keringetannya di punggung atau di tangan sih gapapa. Kalau saya, yang pertama keringetan kalau panas itu : muka, leher, dan punggung. Sengsara kan? Jadi apalah itu contour  atau strobing kalau di Jakarta. Pakai bedak aja pun luntur melulu 😂 😂  Abis mandi aja andukan sebentar terus pas pake baju udah keringetan lagi. Rambut lepek terus, dikuncir terus. I think Jakarta is against me being pretty.
  • The traffic
    Dulu sewaktu kos di daerah Satrio, Sudirman, kemana-mana naik Trans Jakarta kan. Kemana-mana asal ada akses Trans Jakarta mah aman pulang. Dari kantor client ke kos paling lama juga 20 menit (sama jalan kaki & nunggu bus nya datang). Itu kalau kondisi nya ideal (ga macet & ga ngantri). Dari kantor di BNI 46 apalagi, 15 menit juga sampe. Sekali lagi, kalau ideal loh kondisinya. Lalu datanglah hujan. Kondisi ideal bubar sudah. Kenapa? Karena adanya mobil-mobil kurang terpelajar yang kalau hujan naik ke jalur busway. Terus macet deh busway nya. Terus perjalanan pulang yang tadinya cuma 20 menit, bisa jadi 2 jam (true story).
  • Too many people
    Lanjut dari cerita naik Trans Jakarta dari HQ kantor di BNI 46 ke kos cuma 15 menit dalam kondisi ideal. Yang menggagalkan kondisi ideal ini seringnya adalah : kebanyakan orang yang antri. Antrian Trans Jakarta di halte Dukuh Atas 2 ini bisa sampe keluar dari halte nya terus masih panjaaang sampe ke jembatannya (true story). Apalagi kalau jam pulang kerja. Opsi lain adalah naik metromini atau jalan kaki. Berhubung metromini itu serem dan penuh banget juga biasanya, jadi dulu saya seringnya : jalan kaki. Ga deket loh kawan-kawan jalan kaki dari BNI 46 ke Satrio (patokannya : Sampurna Strategic Square). Bisa 30 menitan gitu. Lalu bayangkan jalan kaki di Jakarta yang panas, berdebu, terus pake bawa laptop juga (konsultan IT kan, kemana-mana nengteng leptop, emang menyiksa). Waaay too many people live in Jakarta. Kalau ke mall hari Sabtu/Minggu, mall itu udah berubah jadi cendol. Orang semua isinya. Udah pernah liat stasiun kereta jam 5 sore kaya apa? Udah lebih dari cendol.

 

Despite kesebelan-kesebelan nya, Jakarta itu ngangenin juga. Kenapa? Karena dengan melewati kesusahannya kita belajar juga kalau kita bisa menghadapi kesulitan dan tidak menyerah. Masa ujan terus stuck di Trans Jakarta terus menyerah pulang? Ga kan? Masa gara-gara panas di jalan terus ga berangkat kerja? Ga kan? Hahaha. So we push through, walau kadang keselnya sampe ubun-ubun dan bisanya maki-maki doang LOL. That’s what makes us love and hate Jakarta, right?

 

In another related post : What I Love & Hate : Bogor

 

NB : Featured image for this post is taken at Ancol, Jakarta.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *