The Bodyguard (UK TV Series, 2018) Review | Bahasa Indonesia

heytheregrace.com | The Bodyguard 2018 BBC Netflix review | Bahasa Indonesia
(Image source from BBC)

 

Disclaimer : I am not an expert at all about movies or cinematographic. This review is purely 100% based off of my personal taste subjectively.

 

Prolog

Kemarinan saya baca salah satu artikel yang bilang kalau ada TV series baru di UK yang mecahin rekor penonton terbanyak. Dan pemeran utamanya adalah yang dulu main jadi Robb Stark di Game of Thrones (Richard Madden). I’m immediately drawn, karena dulu emang jagoan saya si Robb Stark (before he died tragically, I’m still mad about it). Artikelnya juga bilang kalau TV series ini akan bisa ditonton di Netflix tanggal 24 Oktober. Jadi begitu di Netflix udah ada, saya langsung capcus nonton episode pertama.

 

Sinopsis

Di kereta perjalanan pulang dari mengunjungi orang tuanya bersama anak-anaknya, David Budd menemukan salah satu penumpang akan melancarkan aksi teroris dari toilet kereta. David yang merupakan seorang polisi dan veteran perang di Afganistan dengan PTSD kemudian ditugaskan menjadi bodyguard dari much-hated Home Secretary, Julia Montague.

 

Review

It’s so intense! Awalnya dikira film romantic comedy gitu, ternyataaa film serius dari awal sampe akhir. And sooo intense I can’t take my eyes off the screen, apalagi episode terakhir yaampun. Selama 6 episode kali 1 jam durasi sukses bikin merhatiin serius terus dan penasaran ini siapa sih yang jahat dan siapa yang baik. Alur dan ceritanya ga ketebak, dan TV Series ini rela membunuh salah satu pemeran pentingnya dong! Dikira cuma Grey’s Anatomy atau Game of Thrones doang yang tega haha. Ada sih sedikit klise dari sisi romantisnya, tapi masih bisa diterima dan emang penting untuk ceritanya juga. Dan juga ada beberapa twists yang bikin series ini ga ngebosenin. Dari segi cerita yang berpusat pada politik para petinggi pemerintahan di UK di antara ancaman teroris, ini menarik banget buat diikutin.

That being said, ada saat-saat di tengah-tengah season, episode 4 dan 5 rasanya kurang greget dan berasa filler aja menuju episode terakhir. Apalagi di episode 3-4 salah satu karakter dominannya habis dibunuh. Ini juga jadi poin ngeselinnya sih. Soalnya dari episode satu ceritanya ini dibangun oleh dua karakter penting (David Budd dan Julia Montague). Terus dibunuh satu, jadi agak berasa timpang di episode 4-5. Episode 6 sebagai season finale-nya oke banget. Dari menit pertama sampai menit terakhir ga lepas dari layar mata saya karena tegang. Dan habis episode terakhir saya berasa sedih dan kebingungan karena abis ini mau nonton apa lagi dong yang seru gini.

Ada banyak plot holes juga sih, misal kenapa si David Budd yang paranoid ini sampe bisa-bisanya dan mau-maunya masuk perangkap si Chanel dengan datang sendiri tanpa back up atau plan apapun. Dari awal sampe akhir inside man yang dicariin ga ketebak karena ya ga ada clue sedikit pun tentang keterlibatannya, at all loh ya. Jadi pas ke-reveal ya pemikiran saya “loh koq dia” bukan “ohhh dia toh ternyata”.

Dari pemerannya, Richard Madden oke banget aktingnya meranin polisi pemeran utama yang sangat lurus dan diam-diam tertekan karena PTSD. His clenched mouth did a very good acting, too, LOL. Dan kalau soal ganteng jangan ditanya. Emang udah kesengsem sejak doi main jadi Robb Stark di Game of Thrones dulu.

Overall, plot holes dan bosen-bosen di tengahnya menurut saya tertutup dengan tense yang dapet banget, cerita yang unpredictable, dan akting brilian Richard Madden.

 

What I Like The Most

Ceritanya ga ketebak. Ga ada cliffhanger di akhir season, tamat dengan sempurna. Oh, dan Richard Madden. So handsome and so good at acting.

 

What I Dislike The Most

Banyak plot holes, dan kebingungan apakah si David Budd ini baik atau jahat ataukah dia punya hidden agenda.

 

Where to Watch

Netflix

 

My Final Rating

4.5/5

 

See the full list of my Netflix show rank here.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *